Lelahmu Jadi Lelahku Juga

Malam yang begitu indah. Langit kota bertabur bintang-bintang. Bulan seakan tersenyum menemani malamku yang sunyi.

Aku berangkat besok ya, Lin.

Sebuah pesan singkat menyapa layar handphoneku.

Dita, salah satu sahabtku besok akan berangkat ke Riau untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang Duta Pariwisata. Aku memang beruntung, berada dekat dengan orang-orang hebat. Mereka yang berjuang keras untuk mendapatkannya.

Malam semakin larut, namun mataku masih saja belum terpejam. Aku teringat akan sosok Papah yang kini berada jauh disana. Meski hanya 100 KM terpisah, rasanya berat meninggalkan papah yang hanya seorang diri. Sepertimya rindu kian menjerat. Ku putuskan untuk mengirim sebuah pesan pada Papah.

Selamat malam, pah. Selamat beristirahat. Lina sayang Papah.

Waktu sudah menunjukkan pukul 23.41. Namun rasa kantuk sepertinya masih enggan menggodaku untuk tidur. Kembali ku tatap langit kota yang begitu indah. Dulu, Papah sering mengajakku keluar rumah hanya untuk melihat kilauan bintang. Beliau mengajarkan cara membaca rasi bintang dengan sederhana.

Kami sudah menjalani kehidupan berdua sejak 9 tahun silam. Kala itu ibuku yang sedang mengandung mengalami sakit secara mendadak. Selama 7 hari beliau dirawat. Dokter mendiagnosa bahwa jantungnya bocor dan paru-parunya mengalami masalah. Kabar yang cukup mengagetkan, karena jika diingat Ibu tidak pernah mengeluhkan sakit dibagian dada maupun mengalami sesak nafas. Namun, aku yakin Tuhan memiliki rencana yang lebih baik.

Tring..

Sebuah pesan kembali menyapa layar handphoneku.

Selamat malam juga, putri papah yang cantik. Jaga diri baik-baik ya nak.
Doa Papah selalu menyertaimu.

Tiba-tiba ingin rasanya segera pulang dan memeluk Papah. Selama ini, aku belum pernah sekali pun mengungkapkan bahwa aku sangat menyayanginya. Entah sejak kapan aku merasa malu untuk mengungkapkan rasa sayang pada Papah.

Sepertinya rindu begitu jahat. Menyiksa batinku dan memaksaku menelpon Papah.

Tut.. Tut.. Tut..
"Hallo.. Lina.."

Baru dua kata yang keluar dari mulut beliau, namun air mata sudah deras membasahi pipi.

"Pah, Papah sehat kah ?"

"Sehat, nak. Kamu sehat ?"

Kembali mulutku terkunci karena menahan tangis. Andai aku bisa pulang malam ini juga, ingin rasanya mengatakan bahwa aku sangat menyayanginya. Ingin rasanya mendapat peluk hangat darinya.

"Nak, sudah malam. Tidurlah. Besok harus berangkat ke kampus kan ?"

Bibirku masih membisu, tapi papah terus memberi nasehat. Mulai dari makan teratur hingga persoalan hati.

Pah, Lina sayang Papah. Maaf Lina masih suka nakal. Maafin Lina ya pah.

Ku dengar beberapa isakan papah yang membuat air mataku kian deras. Tak ada yang dapat aku lakukan. Aku jugs tenggelam dalam suasana haru malam itu.

Aku merasakan betapa Papah merasa rindu, merasa kesepian karena harus terus sendiri. Tapi akan ku tebus pengorbanan papah dengan hasil yang diharapkan.

Doakan aku, Pah. Agar kelak bisa jadi anak kebanggaan Papah.


#onedayonepost
#odopbatch5
 

1 Komentar