Tuhan itu Maha Baik

 




Tentunya selama menjalani kehidupan tidak selamanya apa yang kita rencanakan dapat berjalan dengan baik. Begitu juga sebaliknya, dalam menjalaninya pun tidak mungkin hanya kemalangan yang terjadi. Meski begitu, baik aku, kamu maupun orang lain pasti pernah merasa bahwa hidup pernah terlalu keras dan berpikir bahwa ujian yang kita dapat terlalu berat.

Hari ini, aku mau sedikit cerita tentang apa yang aku alami belakangan ini. Saat ini, diusia yang juga kian dewasa aku sesekali merasa khawatir dengan masa depan. Kekhawatiran yang hadir tentang pekerjaan, pertemanan, keluarga bahkan pasangan.

Terlebih saat ini dukungan keluarga yang sangat aku butuhkan justru berbalik menjadi tuntutan dan ungkapan kecewa atas beberapa target yang meleset dari rencana. Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa mungkin ini adalah cara keluargamu mengajarkan kedewasaan. Tidak salah, hanya saja mungkin saat ini aku masih belajar menyesuaikan diri dengan cara tersebut. Didalam masa penyesuaian inilah, berbagai pikiran negatif sering mampir bahkan sesekali membuat kualitas tidur menjadi tidak baik. Dampaknya kesehatan juga menjadi ikut terganggu, nafsu makan menjadi berkurang dan seringkali merasa kesulitan dalam mengendalikan emosi.

Aku cukup mengenal diriku, ya tentu siapa yang tidak  mengenal dirinya sendiri bukan ?
Aku juga sadar bahwa ini tidak mungkin dibiarkan terjadi secara terus-menerus. Saat kondisi psikisku sedang tidak sebaik biasanya, maka ada cara yang bisa aku lakukan untuk menyembuhkannya, mungkin istilah ini lebih kita kenal adalah self healing.

Menurut Psychology Today yang dikutip melalui laman merdeka.com, self healing merupakan upaya yang dilakukan oleh diri sendiri untuk menyembuhkan diri sendiri. Penelitian juga membuktikan bahwa sebenarnya seseorang mampu menyembuhkan diri sedniri dengan persentase keberhasilan 18-75%.

Self healing bertujuan untuk memahami diri sendiri, menerima ketidaksempurnaan, serta membentuk pikiran positif tentang apa yang terjadi dalam hidup. Sebab, keyakinan dari diri sendirilah yang mendorong mereka pada kesembuhan.

Salah satu cara yang biasanya aku lakukan adalah mendengar dan mengamati cerita orang lain. Sebenarnya awalnya tanpa disengaja, tapi karena saat ini semakin tahu apa yang bisa dilakukan untuk self healing maka saat aku perlu pasti aku lakukan.

Aku merasa bahwa dengan mendengar dan mengamati cerita orang lain mata kita jadi bisa melihat lebih jauh, tentunya dengan begini kita jadi bisa berpikir lebih luas dan merasa lebih bersyukur. Salah satu contohnya kemarin tepatnya pada Minggu, 8 Agustus 2021, aku diajak untuk berpartisipasi di kegiatan sosial membagikan paket sembako untuk masyarakat yang terdampak PPKM di Lebak. Sejak awal, aku tahu bahwa kondisiku lagi kurang baik dan ini bisa jadi salah satu media untuk memperbaiki kondisi tersebut.

Perjalanan yang cukup jauh diisi beberapa obrolan, baik itu tentang kondisi Indonesia yang juga masyarakatnya yang merasakan dampak pandemi sampai sharing beberapa cerita pribadi. Sesampainya dilokasi distribusi bantuan dapat dilaksanakan dengan lancar. Disini ada pelajaran penting khususnya untuk aku pribadi, yaitu hal positif yang kita lakukan akan memberikan dampak positif juga untuk diri kita. Sesederhana menyalurkan paket sembako yang sebenarnya juga bukan berasal dari harta yang aku miliki tapi aku ikut merasakan dampak baik dari kegiatan yang aku ikuti. Ada kesenangan didalam hati yang sulit untuk diungkapkan ketika kita bisa ikut membantu orang lain meski kondisi kita sendiri juga sedang membutuhkan bantuan. Mungkin sederhananya kita jadi jauh lebih bersyukur dengan mendengar atau mengamati cerita orang lain. Seakan hati ikut angkat suara "tuh, ujianmu tu belum seberapa lho. Kamu masih punya banyak hal yang bahkan mereka juga belum tentu bisa merasakannya. Ayo semangat lagi, kamu bisa lewatin ini."

Sebelum pulang, tim kegiatan diajak untuk mengunjungi salah satu kediaman relasi salah satu anggota tim untuk makan siang. Makan siang bersama diatas daun pisang dengan lauk sederhana seperti tempe dan tahu goreng, ikan asin, jengkol, lalapan, sambal dan kerupuk yang aku kenal dengan istilah "bacakan" terasa begitu hangat padahal sebelumnya kami belum pernah bertemu. Mungkin akan terdengar klise, tapi makan siang kali itu terasa lebih nikmat.

Selama perjalanan pulang, aku mendengar cerita yang jauh lebih banyak dari sebelumnya. Mungkin karena rasa nyaman yang sudah semakin dirasakan setelah berkegiatan bersama seharian. Dimulai dari cerita-cerita sederhana hingga cerita pribadi yang mungkin hanya bisa diceritakan secara spontan saat itu juga. Aku kembali belajar tentang banyak hal, tentang rasa syukur, tentang menghargai usaha yang sudah dilakukan dan untuk terus belajar. Untuk kedua kalinya, aku merasa bahwa dengan mendengarkan dan mengamati cerita orang lain kita bisa melihat lebih jauh dan berpikir lebih luas.

Terakhir, sebelum cerita hari ini disudahi. Aku ingin mengatakan bahwa "Tuhan itu Maha Baik", ditengah ujian yang saat ini tengah dihadapi Tuhan mempertemukan dan mengumpulkanku bersama orang-orang yang membuatku belajar untuk lebih bersyukur dan terus berusaha memberikan yang terbaik.

0 Komentar