Halloooooo...
Sahabat, ditengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, mode transportasi juga turut berkembang dengan pesat. Saat ini, layanan transportasi via internet atau aplikasi menjadi salah satu pilihan yang banyak diminati oleh masyarakat. Selain lebih praktis karena tidak harus menunggu ditengah panas dan polusi ibu kota, transportasi ini juga memberikan harga yang cukup terjangkau. Namun tidak sedikit pula masyarakat yang masih menggunakan mode transportasi masal seperti bus, angkot dan kereta.
Sahabat, ketika sering menggunakan jasa angkutan umum tentunya kita sudah sangat hafal dengan tarif yang harus dibayarkan. Terlebih jika angkutan tersebut rutin kita gunakan entah untuk berangkat kerja, sekolah atau berbelanja.
Lalu, selama menggunakan jasa angkutan umum pernahkah sahabat merasakan ketidak nyamanan karena tarif yang dipatok tidak sesuai ? Atau berupa tidak diberikannya kembalian yang seharusnya menjadi hak penumpang ?
Nah, kali ini saya ingin mengajak sahabat untuk sedikit berdiskusi mengenai antara hak dan sedekah.
Sahabat, saya yakin hal ini pernah sesekali dialami. Tentunya hal ini menimbulkan kerugian disalah satu pihak. Meskipun uang kembalian itu biasanya tak lebih dari Rp. 5000 namun tentunya menimbulkan rasa kesal.
Sebagai pengguna transportasi umum, saya pun pernah mengalami hal tersebut dan merasa bahwa supir angkutan umum dan kondekturnya telah mengambil hak saya. Tentu hal ini menimbulkan ketidak nyamanan. Sebenarnya, ketika ongkos yang dianggarkan lebih dari cukup, sekedar uang kembali seribu atau dua ribu bukan sebuah masalah. Namun, hal ini akan menjadi sesuatu yang memicu kekesalan saat isi dompet sedang berada pada masa krisis.
Meski demikian, tak sedikit pula supir angkutan umum yang dengan ramah dan jujur melayani penumpangnya. Bahkan beberapa kali saya temui supir angkot yang memberikan uang kembalian tanpa saya minta. Adapula supir yang dengan ikhlas membiarkan penumpangnya turun tanpa membayar ketika angkutannya tak sampai ditempat tujuan (oper).
Dan tahukah sahabat, sebenarnya jika ditelaah lebih dalam persoalan ini dapat dilihat melalui banyak sudut pandang. Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan hal tersebut dan faktor-faktor ini tidak sepenuhnya berasal dari supir atau kondektur. Faktor yang menyebabkan hal ini bisa saja terjadi karena kelalaian kita. Bisa saja karena kita lupa meminta hak kita, atau justru enggan meminta dan berharap babang nya peka. Namun, selalu ada hikmah dibalik tiap peristiwa, hal ini sebenarnya dapat dijadikan pelajaran untuk senantiasa menggunakan uang pas ketika membayar.
Sahabat, sebenarnya hal seperti ini bisa menjadi sumber pahala yang tidak terduga. Seorang sahabat saya pernah berkata bahwa jika hati ikhlas menerima keadaan tersebut maka bernilai pahala, namun apabila kesal, marah, hujatan yang dikeluarkan sebagai peluapan maka sia-sia. Jika dipikirkan kembali, benar juga ya.. Rasa kesal boleh saja sejenak singgah dihati, namun bersegera mengucap istighfar dan menerima harus segera menjadi obat. Dan dengan rasa marah, bukankah hanya akan menambah kebencian ? Dan apakah dengan marah uang tersebut akan kembali ? Tentu tidak.
Sebuah persoalan akan semakin terlihat buruk ketika kita tidak berusaha menerimanya dengan lapang dada.
اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ
Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu.
۞ وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"
Kita pun harus meyakini bahwa apapun yang menimpa kita saat ini sudah smatas kehendak-Nya. Tentu Allah menurunkan sesuatu dengan disertai hikmah.
Bisa jadi ada pesan tersirat didalam kejadian tersebut. Mungkin akhir-akhir ini kita kurang bersedekah, mungkin akan naik tingkat menjadi pribadi yang lebih sabar dan ikhlas, tentu jika berhuznudzon kejadian tersebut justru akan membuat sebuah pribadi menjadi lebih bersyukur.
Demikian sahabat, apabila terdapat perbedaan pendapat saya memohon maaf atas kekhilafan dan kesalahan saya. mohon tinggalkan kritik dan saran dikolom komentar 😊
#onedayonepost
#odopbatch5


3 Komentar
Saya juga pernah mengalaminya... Tapi karena malu minta kembalian, tp semoga itu bernilai sedekah.
BalasHapusnaik angkot bisa sambil sedekah, itu berkah berati y
BalasHapusAamiin ^^
BalasHapus