Segores Luka

Pagi itu, hujan kembali membasahi tanah kota Cilegon. Beberapa mahasiswa terlihat berlarian untuk menghindari tetesan air langit. Aku yang kala itu memang lupa membawa payung ikut berlari dan bergegas menuju lorong dekat aula.

"Rissa", sebuah sosok gadis berkacamata terlihat sedikit berlari mendekatiku.

"Ooh hanifah, ada apa ?"

"Ini ada titipan", sebuah kotak berwarna orange kini berada tepat digenggamanku.

Sejujurnya, aku sudah tak kaget dengan pemberian ini, sudah bisa di tebak pengirimnya adalah Fadhil. Sahabat Hanifah yang katanya konglomerat itu, memang terkenal nekat jika sudah suka.

Kelas pagi ini diisi dengan materi Mekanisme Reaksi, di lanjut dengan pembahasan mengenai Termodinamika. Jurusan yang ku pilih memang bukanlah jurusan yang mudah, namun cita-cita ku untuk menjadi seorang engineering sangatlah kuat dan aku akan berusaha keras untuk mewujudkannya.

Sore ini ada kelas ? makan malam dekat kota yuk. Ada kedai baso baru disana.

Sebuah pesan singkat dari Nindya. Sahabat ku ini memang memiliki hobby wisata kuliner, khususnya makanan berkuah dan pedas.

Sore itu, kami bertemu di persimpangan jalan dekat perumahan KR. Nindya yang kala itu membawa kendaraan sudah menunggu.

Selayaknya seorang sahabat, pertemuan kami diisi dengan berbagai cerita dan canda. Nindya memang sahabat ku sejak di bangku SMA, menurutku beliau sosok wanita yng sangat baik dan keibuan.

"Ris, masih ingat mas Ashar ?"

Seketika mataku terbelalak. Mengapa tiba-tiba Nindya menanyakan mas Ashar.

"Ingat, kenapa ?"

Ku lihat Nindya mengambil sesuatu dari dalam tas nya.

Surat Undangan ?

"Mas Ashar mau nikah minggu depan. Kamu dateng kan ?"

Sesaat waktu seakan terhenti. Aku memang bukan orang yang pantas marah dengan kabar ini. Bukankah seharusnya aku merasa bahagia karena ia telah dipertemukan dengan kekasih halalnya meski sosok itu bukanlah aku.

"Ris.. Rissa ?", tangan Nindya kini berada tepat diatas tanganku, ia usap lembut. Seakan ia tau apa yang tengah aku pikirkan.

"Iya, insyAllah aku datang".

Aku paham dengan maksudmu menolakku, Ris. Ku harap ini jadi yang terbaik untukmu dan untukku. Meski harus dengan waktu yang lama, aku akan tetap menunggu saat aku bisa menghalalkanmu.

Seakan semua berputar kembali ke 3 tahun silam. Saat itu aku baru memasuki semester pertama. Mas Ashar adalah sosok pemuda idaman. Tak hanya pandai dan mau bekerja keras, beliau juga sosok yang baik akhlaknya.

Aku memang sedikit memendam kekaguman padanya, namun tak berharap lebih. Kebetulan saat itu kami berada pada satu organisasi yang sama. Kami sering bertemu namun jarang bertegur sapa. Selama menjabat diperiode yang sama, aku melihat banyak gadis yang menaruh kekaguman pada mas Ashar, bahkan sesekali ku dengar bahwa orang tua mereka sangat setuju apabila mas Ashar yang datang untuk meminang putri mereka. Aku yang kala itu hanya sebagai pengurus muda hanya bisa ikut senang. Mas Ashar 3 tingkat diatas ku. Kira-kira kini usia nya 24 tahun.

Yah, masih ku ingat pula pada masa akhir jabatan ia menyatakan perasaan nya pada ku melalui sebuah surat. Entah dari mana rasa itu bisa merasuk dalam hatinya. Padahal komunikasi kita sangat terbatas. Namun mas Ashar katakan bahwa diam-diam sering memperhatikanku. Tapi apalah dayaku yang kala itu baru saja masuk perguruan tinggi melalui jalur beasiswa. Aku tak mungkin menerimanya dengan status tak jelas, membuatnya menunggu berlama-lama dalam ketidak pastian. Meski begitu, surat terakhirnya menjadi alasan ku menutup hati sampai saat ini.

Aku memang berhasil membuatnya tak menunggu, namun aku justru terjerumus dalam ucapanku sendiri. Padahal, tak ada yang tau takdir ke depan akan menjadi seperti apa. Aku hanya terlalu percaya diri dengan opini ku bahwa ia akan tetap menunggu sampai siap memintaku pada bapak dan ibu. Saat ini yang ku pikirkan hanya, aku telah meminta yang terbaik pada Rabb ku, maka jika ia dijodohkan dengan yang lain itu artinya jawaban atas doaku bukanlah mas Ashar.

"Barakallah mas, mudah-mudahan menjadi keluarga yang Samawa"

"Terimakasih. Rissa"

Ku tatap mata indahnya, yang mungkin ini kali terakhir aku dapat melihatnya. 

"Maafin aku", ku lihat sedikit kesedihan tergores dimatanya. Bukan, bukan karena seseorang yang bersanding disampingnya bukanlah aku, tapi sedikit rasa bersalah karena ia tak bisa menepati ucapannya.

"Tak apa mas, aku sudah ikhlas. Semoga kelak keluargamu selalu bahagia. Doakan aku agar bisa menyusul."

Pertemuan itu ditutup dengan foto bersama dan canda tawa dengan para sahabat. Yang harus ku ingat adalah apapun yang terjadi pasti sudah atas kehendak-Nya. Dan Dialah Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

#onedayonepost 
#odopbatch5

11 Komentar

  1. Cerinya fiksi apa non fiksi,?
    Ko kaya ada sesuatu yang beda gitu,...

    BalasHapus
  2. Kayaknya teman saya pernah ada yang ngalamin, namanya pake ' kalo gak salah. 😁

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Ooh ada ya ? Salam ya buat temen nya 😂

    BalasHapus
  5. Aku kok sedih bacanya. Padahal disuratnya kan bilang ingin menghalalkan yaa, tapi kenapa menikah dengan wanita lain.

    Pria memang sudah dipegang kata-katanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak usah curhat juga sih mbak nisa...😂😂😂

      Hapus
    2. *Susah. Duh aku typo...

      Aku nggak curhat, itu membahas cerita sinetron kok 😂

      Hapus